Panduan Lengkap: Memahami Jumlah Rakaat Tarawih di Indonesia

Shopsmart.co.id – Perbedaan jumlah rakaat shalat Tarawih seringkali menjadi topik perbincangan hangat setiap memasuki bulan suci Ramadan. Sebagian umat Muslim di Indonesia melaksanakan 8 rakaat, sementara yang lain memilih 20 rakaat, belum termasuk shalat Witir.

Read More

Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa kedua praktik ini memiliki dasar hukum yang sama kuat dalam syariat Islam. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan tersebut, landasan dalilnya, dan bagaimana kita menyikapinya dengan bijak.

Apa Itu Shalat Tarawih? Kedudukan dan Keutamaannya

Shalat Tarawih atau sering disebut Qiyamul Lail di bulan Ramadan adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Pelaksanaannya menjadi salah satu ciri khas dan semangat bulan puasa yang penuh berkah.

Ibadah ini memiliki kedudukan sebagai sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat ditekankan, dan pahalanya berlipat ganda di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri menunjukkan contoh shalat malam yang luar biasa.

Dalil dan Dasar Hukum Jumlah Rakaat Tarawih

Perbedaan jumlah rakaat Tarawih yang ada tidak muncul begitu saja tanpa alasan, melainkan berasal dari pemahaman dan penafsiran terhadap dalil-dalil syar’i. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki pijakan yang kuat dalam tradisi Islam.

Pendapat Pertama: 8 Rakaat (+3 Witir)

Pendapat ini umumnya didasarkan pada hadis dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha. Beliau pernah ditanya tentang shalat malam Rasulullah SAW di bulan Ramadan.

Aisyah RA menjawab bahwa Nabi tidak pernah shalat lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Hadis ini kemudian menjadi rujukan bagi mereka yang memilih melaksanakan Tarawih 8 rakaat, ditambah 3 rakaat Witir.

Para ulama yang berpegangan pada pendapat ini menafsirkan bahwa shalat malam Rasulullah yang disebut Aisyah tersebut mencakup Tarawih. Mereka menekankan pada kualitas shalat yang panjang dan penuh kekhusyukan, bukan semata-mata jumlah rakaat.

Pendapat Kedua: 20 Rakaat (+3 Witir)

Praktik shalat Tarawih 20 rakaat memiliki dasar kuat dari apa yang diamalkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Beliau mengumpulkan para sahabat untuk shalat Tarawih berjamaah dengan 20 rakaat.

Praktik ini kemudian menjadi ijma’ (konsensus) atau kesepakatan para sahabat yang tidak pernah dibantah oleh generasi setelahnya. Mayoritas madzhab fiqih seperti Hanafi, Syafi’i, dan Hambali, mengikuti pendapat 20 rakaat ini.

Mereka berpandangan bahwa Rasulullah SAW sendiri pernah shalat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda, dan keutamaan memperbanyak ibadah di bulan Ramadan sangat dianjurkan. Khalifah Umar melakukan ini demi kemaslahatan umat, dengan tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat.

Menyelaraskan Perbedaan: Bukan Perdebatan, Melainkan Keluasan Syariat

Perbedaan jumlah rakaat Tarawih ini bukanlah sebuah pertentangan yang harus diperdebatkan secara keras. Justru, ini menunjukkan keluasan dan fleksibilitas syariat Islam yang memberi kemudahan bagi umatnya.

Kedua pendapat tersebut sama-sama valid dan memiliki dalil yang kuat dari sumber-sumber hukum Islam. Ini adalah contoh dari ikhtilaf tanawwu’, yaitu perbedaan variasi yang semuanya baik dan diterima.

Umat Islam di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia mempraktikkan keduanya, dan keduanya sah secara syar’i. Fokus utama seharusnya terletak pada esensi ibadah dan kekhusyukan.

Mana yang Sebaiknya Dipilih? Fleksibilitas dan Kekhusyukan

Lalu, mana yang sebaiknya dipilih saat melaksanakan shalat Tarawih? Jawabannya sangat bergantung pada kondisi individu, kemampuan, dan tingkat kekhusyukan yang bisa dicapai.

Jika Anda merasa lebih khusyuk dan dapat menjaga kualitas shalat dengan 8 rakaat, maka pilihan itu sangat baik. Namun, jika Anda memiliki semangat dan kemampuan untuk beribadah lebih banyak, melaksanakan 20 rakaat juga merupakan pilihan yang mulia.

Yang terpenting adalah bukan pada kuantitas semata, melainkan pada kualitas ibadah dan keikhlasan hati. Menjaga kekhusyukan, tadabbur Al-Qur’an, dan merenungi makna setiap gerakan shalat adalah inti dari Tarawih.

Tips Melaksanakan Shalat Tarawih dengan Optimal

Agar ibadah Tarawih kita semakin berkualitas, ada beberapa tips yang bisa diterapkan. Ini membantu kita mendapatkan manfaat spiritual yang maksimal di bulan Ramadan.

  • Prioritaskan Kekhusyukan: Fokuskan pikiran dan hati Anda sepenuhnya kepada Allah SWT selama shalat.
  • Lakukan dengan Ikhlas: Niatkan ibadah hanya karena mencari ridha Allah, bukan karena ikut-ikutan atau pujian manusia.
  • Jaga Kesehatan: Pastikan Anda dalam kondisi fisik yang prima agar bisa beribadah dengan optimal.
  • Boleh Berjamaah atau Sendiri: Shalat Tarawih bisa dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushalla, maupun secara individu di rumah.

Pada akhirnya, perbedaan jumlah rakaat Tarawih adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam yang patut disyukuri. Ini menunjukkan bahwa syariat Allah memberikan banyak kemudahan dan pilihan bagi umatnya.

Marilah kita fokus pada semangat kebersamaan dan berlomba-lomba dalam kebaikan, tanpa menjadikan perbedaan ini sebagai sumber perpecahan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua di bulan Ramadan yang mulia ini.


Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu shalat Tarawih?

Shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) untuk dilaksanakan pada malam hari selama bulan Ramadan. Nama ‘Tarawih’ berarti istirahat, karena para sahabat dahulu beristirahat sejenak setelah setiap dua atau empat rakaat.

Berapa jumlah rakaat shalat Tarawih yang paling umum di Indonesia?

Di Indonesia, ada dua praktik jumlah rakaat shalat Tarawih yang sangat umum: 8 rakaat atau 20 rakaat, yang keduanya biasanya diikuti dengan shalat Witir sebanyak 3 rakaat.

Apakah ada dalil untuk shalat Tarawih 8 rakaat?

Ya, pendapat 8 rakaat didasarkan pada hadis riwayat Aisyah RA yang menjelaskan shalat malam Rasulullah SAW tidak pernah lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Para ulama yang mengambil pendapat ini menafsirkan shalat malam tersebut mencakup Tarawih.

Apakah ada dalil untuk shalat Tarawih 20 rakaat?

Ya, pendapat 20 rakaat didasarkan pada praktik Khalifah Umar bin Khattab RA yang mengumpulkan para sahabat untuk shalat Tarawih berjamaah dengan 20 rakaat. Praktik ini kemudian menjadi ijma’ (konsensus) para sahabat pada masanya dan diikuti oleh mayoritas madzhab fiqih.

Mana yang lebih afdal, 8 atau 20 rakaat?

Kedua jumlah rakaat tersebut memiliki dasar hukum yang kuat dan sama-sama afdal (lebih utama) asalkan dilaksanakan dengan ikhlas dan khusyuk. Pilihan terbaik adalah yang paling memungkinkan seseorang untuk menjaga kekhusyukan dan konsistensi dalam ibadahnya, sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.

Bolehkah melaksanakan shalat Tarawih sendiri di rumah?

Ya, shalat Tarawih hukumnya sunnah, baik dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau mushalla, maupun secara individu di rumah. Namun, melaksanakan secara berjamaah lebih dianjurkan karena ada keutamaan tersendiri.

🎉 PROMO SARUNG ATLAS EKSKLUSIF DI ONLINE 🎉

Belanja lebih hemat dengan Diskon Menarik,
Gratis Ongkir & Bayar di Tempat (COD).


🛒 DAPATKAN PROMONYA DI SINI

✔ Aman ✔ Praktis ✔ Terpercaya

Related posts