Tarawih Berapa Rakaat? Panduan Lengkap Dalil & Tata Caranya

Shopsmart.co.id – Sholat Tarawih adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat dinantikan umat Muslim selama bulan suci Ramadan. Namun, masih banyak umat yang kebingungan mengenai jumlah rakaat yang tepat, serta bagaimana tata cara pelaksanaannya.

Read More

Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan pendapat ulama mengenai jumlah rakaat Tarawih, bacaan niat, dan panduan lengkap tata cara pelaksanaannya agar Anda dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk.

Memahami Esensi Sholat Tarawih di Bulan Ramadan

Sholat Tarawih, atau dikenal juga sebagai Qiyamul Lail di bulan Ramadan, merupakan ibadah sholat malam yang memiliki keutamaan besar. Ibadah ini dilakukan setelah sholat Isya dan sebelum sholat Subuh, umumnya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau mushola.

Nama ‘Tarawih’ sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti istirahat, merujuk pada kebiasaan para sahabat untuk beristirahat sejenak setelah setiap empat rakaat sholat ini. Sholat ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon ampunan dosa-dosa yang telah lalu.

Perbedaan Jumlah Rakaat Sholat Tarawih: 8 atau 20?

Pertanyaan ‘Tarawih berapa rakaat?’ adalah salah satu yang paling sering muncul setiap Ramadan tiba, karena memang terdapat beberapa pandangan di kalangan ulama. Perbedaan ini merupakan khazanah kekayaan dalam Islam yang perlu dipahami dengan bijak.

Secara umum, dua pendapat yang paling banyak dikenal adalah Tarawih 8 rakaat ditambah 3 rakaat sholat Witir, serta Tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat sholat Witir.

Pendapat Pertama: Sholat Tarawih 8 Rakaat (+ 3 Witir)

Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang menjelaskan sholat malam Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya.

Sebelas rakaat ini terdiri dari delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat Witir, yang dilakukan dengan formasi dua rakaat salam, dua rakaat salam, hingga delapan rakaat, kemudian dilanjutkan dengan Witir satu atau tiga rakaat.

Pendapat Kedua: Sholat Tarawih 20 Rakaat (+ 3 Witir)

Pandangan ini menjadi praktik mayoritas di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia, dan dianut oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, dan beberapa ulama Maliki. Dalil utama yang menjadi sandaran adalah praktik Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu yang memerintahkan pelaksanaan Tarawih 20 rakaat secara berjamaah.

Hal ini terjadi pada masa kepemimpinan beliau, di mana para sahabat berkumpul untuk melaksanakan sholat Tarawih sebanyak 20 rakaat dan kemudian dilanjutkan dengan sholat Witir tiga rakaat.

Kesimpulan Mengenai Jumlah Rakaat

Kedua pendapat tersebut memiliki dasar yang kuat dari sunnah Nabi dan praktik para sahabat, sehingga umat Muslim bebas memilih salah satu yang paling nyaman untuk dilakukan. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan konsistensi dalam melaksanakan ibadah tersebut, bukan hanya terpaku pada kuantitas.

Penting untuk diingat bahwa sholat Witir adalah penutup sholat malam dan sangat dianjurkan untuk dilaksanakan setelah Tarawih, baik itu 8 rakaat maupun 20 rakaat.

Bacaan Niat Sholat Tarawih yang Tepat

Niat merupakan rukun penting dalam sholat yang membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya. Niat sholat Tarawih dapat diucapkan dalam hati saat takbiratul ihram atau dilafalkan secara lisan sebelumnya.

Berikut adalah contoh niat untuk sholat Tarawih, baik sebagai imam, makmum, maupun munfarid (sendirian).

Niat Sholat Tarawih sebagai Imam

Latin: “Ushalli sunnatat Tarawihi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an imaaman lillahi ta’ala.”

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Tarawih sebagai Makmum

Latin: “Ushalli sunnatat Tarawihi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an makmuman lillahi ta’ala.”

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Tarawih Sendirian (Munfarid)

Latin: “Ushalli sunnatat Tarawihi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillahi ta’ala.”

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Tarawih

Sholat Tarawih memiliki tata cara yang serupa dengan sholat sunnah lainnya, namun dilaksanakan secara berulang. Umumnya, sholat ini dilakukan dengan format dua rakaat salam, kemudian diulang hingga mencapai jumlah rakaat yang diinginkan.

Berikut adalah langkah-langkah umum tata cara sholat Tarawih:

  1. Niat: Mengucapkan niat di dalam hati atau secara lisan sebelum takbiratul ihram.
  2. Takbiratul Ihram: Mengangkat kedua tangan sejajar telinga sambil mengucapkan ‘Allahu Akbar’.
  3. Membaca Doa Iftitah: Setelah takbir, membaca doa iftitah.
  4. Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek: Membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan satu surat pendek dari Al-Qur’an.
  5. Ruku’: Membungkuk dengan tuma’ninah sambil membaca tasbih ruku’.
  6. I’tidal: Bangkit dari ruku’ sambil membaca doa i’tidal.
  7. Sujud: Melakukan dua kali sujud dengan tuma’ninah di antara keduanya.
  8. Tahiyat Akhir: Duduk tahiyat akhir pada rakaat kedua dan membaca bacaan tahiyat akhir.
  9. Salam: Mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri untuk mengakhiri sholat dua rakaat.
  10. Pengulangan: Ulangi langkah-langkah di atas hingga selesai jumlah rakaat yang diinginkan (8 atau 20 rakaat).
  11. Sholat Witir: Setelah selesai Tarawih, lanjutkan dengan sholat Witir, biasanya 3 rakaat dengan formasi 2 rakaat salam dan 1 rakaat salam, atau langsung 3 rakaat dengan satu salam di akhir.

Di antara setiap dua rakaat atau setiap empat rakaat, jamaah biasanya membaca dzikir atau doa khusus yang dikenal dengan ‘doa kamilin’. Hal ini juga termasuk bagian dari istirahat yang menjadi asal-usul nama Tarawih.

Melaksanakan sholat Tarawih dengan khusyuk dan penuh penghayatan akan membawa keberkahan dan pahala yang berlimpah di bulan Ramadan. Semoga panduan ini membantu Anda memahami dan melaksanakan sholat Tarawih dengan lebih baik.


Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah boleh sholat tarawih di rumah secara munfarid (sendirian)?

Ya, sholat Tarawih sah hukumnya dilakukan di rumah, baik secara munfarid (sendirian) maupun berjamaah bersama keluarga. Rasulullah ﷺ sendiri pernah melakukan sholat malam di rumah. Meskipun demikian, sholat Tarawih berjamaah di masjid memiliki keutamaan dan pahala yang lebih besar.

Apa perbedaan utama antara Tarawih 8 rakaat dan 20 rakaat?

Perbedaan utamanya terletak pada jumlah rakaat yang dilaksanakan dan dalil yang mendasarinya. Tarawih 8 rakaat berdasarkan praktik Rasulullah ﷺ yang tidak pernah sholat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir), sedangkan Tarawih 20 rakaat didasarkan pada praktik Umar bin Khattab dan ijma’ (konsensus) sebagian besar sahabat.

Kapan waktu pelaksanaan sholat tarawih?

Waktu pelaksanaan sholat Tarawih adalah setelah sholat Isya hingga sebelum masuk waktu sholat Subuh. Namun, waktu yang paling utama adalah di awal malam, setelah sholat Isya, sebagaimana praktik mayoritas umat Muslim.

Apakah sholat Witir wajib setelah Tarawih?

Sholat Witir sangat dianjurkan untuk dilaksanakan setelah sholat Tarawih sebagai penutup sholat malam. Hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), bukan wajib. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jadikanlah akhir sholat malam kalian adalah sholat Witir.”

Apakah ada doa khusus setelah sholat Tarawih?

Ya, setelah sholat Tarawih (dan Witir), ada beberapa doa yang biasa dibaca, salah satunya adalah ‘Doa Kamilin’ atau sering juga disebut ‘Doa Penutup Tarawih’. Doa ini berisi permohonan ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.

🎉 PROMO SARUNG ATLAS EKSKLUSIF DI ONLINE 🎉

Belanja lebih hemat dengan Diskon Menarik,
Gratis Ongkir & Bayar di Tempat (COD).


🛒 DAPATKAN PROMONYA DI SINI

✔ Aman ✔ Praktis ✔ Terpercaya

Related posts